Selasa, 13 Juli 2010

Fakta unik dan menarik seputar wc 2010

Fakta unik dan menarik seputar wc 2010

teman2 semua saya cuma mau share aja fakta2 unik dan menarik di piala dunia 2010 afsel yang baru berakhir beberapa hari yang lalu..

mulai dari fakta pemain dan pelatih :

1. sibiwe tshabalala menjadi pemain pertama yang menggolkan.
2. asamoah gyan menjadi pemain yang menendang pinalti dan gol.
3. kartu merah pertama didapat oleh pemain asal uruguay yaitu nicolas lodeiro.
4. zigic menjadi pemain paling tinggi yaitu 202cm.
5. gonzalo higuain menajdi satu2nya pemain yang dapat hat-trick selama piala dunia 2010 berlangsung.
6. daniel agger melakukan own goal pertama di piala dunia
7. kevin prince boateng (ghana) serta jerome boateng (jerman) adalah satu2nya saudara dengan membela negara yang berbeda.
8. cannavaro melakukan caps terbanyak untuk negaranya yaitu 144 caps (kaklo ane ga salah
10. kiper asal inggris david james adalah kiper sekaligus pemain paling tua dalam piala dunia 2010.
11. banyak yang tidak tahu kalo pelatih belanda van der marwijk mempunyai dengan mark van bommel ialah seorang menantu dan mertua seprti halnya maradonna dan sergio aguero.
12. vincente del bosque menjadikan dirinya pelatih yang dapat membawa tim spanyol juara piala dunia untuk yang pertama kalinya.
13. klose menyamai rekor gol rekan senegaranya di piala dunia gerd muller yaitu 14gol.

itu semua mengenai pemain dan pelatih yang ane ketahui. dan ini adalah FAKTA NEGARA MAUPUN BENUA :
1. tentunya agan2 semua tau dong kalo WC 2010 ini pertama kalinya diadakan di benua hitam afrika.
2. slovenia merupakan negara terkecil yang ikut piala dunia 2010 hanya dengan penduduk sekitar 6juta jiwa.
3. italia adalah negara juara beratahan yang pertama kalinya tidak dapat lolos ke babak 16 besar.
4. paraguay mewujudkan mimpinya lolos ke babak 8 besar untuk pertama kalinya setelah mengalahkan jepang pada laga sebelumnya.
5. jerman menjadi negara dengan gol paling produktif jumlah gol dan juga jerman menjadi negara dengan skuad paling muda yaitu dengan rata2 24,1 tahun.
6. terbalik dari jerman, italia adalah negara dengan skuad paling tua yaitu dengan rata2 29,4tahun.
7. spanyol resmi menobatkan negaranya untuk pertama kali mendapatkan piala dunia selama keikutsertaannya.
8. sekali lagi belanda hanya menjadi runner up selama penampilannya di final piala dunia.
9. afsel menjadi negara tuan rumah yang tidak bisa lolos ke fase 16besar

Senin, 12 Juli 2010

VARIASI DIALEK BAHASA MADURA DI KABUPATEN BONDOWOSO

VARIASI DIALEK BAHASA MADURA DI KABUPATEN BONDOWOSO


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang menyatukan berbagai bahasa yang ada di wilayah nusantara. Setiap bahasa mempunyai karateristik berbeda, namun bahasa juga mempunyai banyak ciri yang hampir mirip tapi tidak sama. Sehingga dari perbedaan itu perlu mengadakan penelitian yang mendalam supaya dapat dipahami oleh pengguna bahasa atau pun yang belajar bahasa itu sendiri. Salah satu ciri tersebut adalah bahasa akan berkembang seiring dengan perkembangan zaman.” Bahasa itu bersifat dinamis, tidak terlepas dari berbagai kemungkinan yang sewaktu-waktu dapat terjadi ”, (Chaer, 1995: 117). Perubahan tersebut dapat terjadi pada tataran apa saja baik secara fonologis, morfologis, sintaksis, semantik, dan leksikon.

Selanjutnya pokok pembicaraan yang ideal adalah hubungan dan bentuk bahasa yang bagaimana yang terjadi antara bahasa dan masyarakat pengguna bahasa itu sendiri. Jawabanya adalah adalah hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu yang sering disebut variasi, ragam atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat, (Chaer, 1995 : 50). Kita banyak menemukan variasi, ragam atau dialek di tengah-tengah lingkungan masyarakat tutur, tetapi kita masih belum membedakan manakah yang menjadi pola dalam penggunaannya, sehingga dalam memenuhi pengertian tentang analisis suatu bahasa menjadi lebih terarah dan mudah dipahami.

Karena pokok bahasan ini lebih mengarah pada pengkajian analisis sintaksis, maka konsepnya pun tidak beda jauh, yang dilakukan adalah mengamati dan menginterpretasikan sebuah bahasa yang menjadi obyek dalam penelitan ini. Fenomena yang sedang terjadi dalam masyarakat adalah belum mengerti struktur kalimat suatu bahasa, sehingga perlu suatu penelitian agar tidak terjadi salah penggunaan dalam kalimat baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk pengucapannya. Saat ini perlu diperhatikan dalam menganalisis suatu bahasa adalah keadaan harafiah dan filosofi bahasa itu sendiri. Apabila suatu bahasa tidak dapat menunjukan kenyataan sebagai bahasa yang dapat dikomunikasikan, menganalisisnya suatu data yang valid.

Melihat fenomena seperti itu sehingga dialek Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso merupakan segmen penting bagi peneliti bahasa. Peneliti ketahui dalam dialek Bahasa Madura banyak bentuk kalimat yang belum diklasifikasikan, namun pendapat itu masih dalam tataran hipotesis kerja peneliti. Penelitian sintaksis dialek Bahasa Madura dilatarbelakangi keinginan untuk melakukan analisis dan penafsiran perbedaan unsur-unsur kebahasaan terlebih dalam bentuk kata. Penelitian ini sangat penting untuk melihat kecendrungan sebuah kata dalam dialek Bahasa Madura yang ditumbuh di Kabupaten Bondowoso apakah kearah perkembangan positif atau sebaliknya.

Penelitian ini sangat esensial untuk dilaksanakan, mengingat bagaimanapun sulitnya bentuk-bentuk kata dialek Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso dengan tingkat sosial kebahasaan bertolak dari pemikiran bahwa semua bentuk kata dalam dialek Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso yang ada tidak akan mempunyai peran dan fungsi yang sama dalam pemakaiannya dalam komunikasi di masyarakat.

1.2 Batasan Masalah

Mengingat sangat luasnya lingkup penelitian leksikon dialek bahasa Madura maka dalam penelitian dialek Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso ini akan dikhususkan pada aspek bentuk-bentuk kata, Agar mendapat kemudahan dalam analisis.

1.3 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dikembangkan dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Bagaimana sejarah bahasa Madura ?

b. Bagaimana Dialek – dialek Bahasa Madura ?

c. Bagaimana Variasi Leksikon bahasa madura di Kabupaten Bondowoso ?

d. Bagaimana Tingkat Tutur Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso ?

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang diharapkan akan tercapai dalam penelitian ini adalah :

a. Mendeskripsikan bagaimana sejarah dialek bahasa Madura.

b. Mendeskripsikan bagaimana Dialek – dialek Bahasa Madura.

c. Mendeskripsikan bagaimana Variasi Leksikon bahasa madura di Kabupaten Bondowoso.

d. Mendeskripsikan bagaimana Tingkat Tutur Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso.

1.5 Manfaat Penelitian

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan pengetahuan dan masukan pada perkembangan ilmu kebahasaan, khususnya mengenai deskripsi bentuk-bentuk kata masyarakat pengguna dialek bahasa madura di Kabupaten Bondowoso.

b. Bagi lembaga pembinaan dan pengembang bahasa hasil penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur dalam kemantapan pembinaan dan pengembangan bahasa pada lembaga pendidikan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sosiodialektologi

Sebelum mengkaji variasi dialek bahasa madura, terlebih dahulu harus mengerti apa yang dimaksud Sosiodialektologi. Sosiodialektologi adalah gabungan dua disiplin ilmu yaitu sosiolinguistik dan dialektologi. Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa yang berhubungan dengan masyarakat (Hudson, 1980 : 3). Dialektologi adalah cabang linguistik yang mempelajari variasi-variasi bahasa dengan memperlakukannya dengan struktur yang utuh (Kridalaksana, 2001 : 42). Dialektologi juga mempelajari variasi bahasa dalam semua aspeknya (Keraf, 1984 : 143). Trudgill (1985 : 17) menyatakan bahwa dialek mengacu pada perbedaan-perbedaan antara macam-macam bahasa yang berbeda kosa kata, tata bahasa dan juga pengucapannya.

2.2 Ciri – ciri Dialek

Ciri-ciri utama dialek ialah perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan (Meilet 1967 : 70 yang dikutip oleh Ayatrohaedi, 1979 :2). Ciri lain yakni: Dialek ialah seperngkat bentuk ujaran setempat yang berbeda-beda, yang memliki ciri-ciri umum dan masing-masing lebih mirip sesamanya dibandingkan dengan bentuk ujaran lain dari bahasa yang sama,dan Dialek tidak harus mengambil semua bentuk ujaran dari sebuah bahasa.

2.3 Ragam – ragam Dialek

Ragam-ragam dialek dapat digolongkan menjadi 3 kelompok golongan ( Ayatrohaedi, 1983:13) antara lain :

a. Dialek 1.

Di dalam kepustakaan dialektologi Roman, dialek ini disebut dalecte 1.yaitu dialek yang berbeda-beda karena keadaan alam sekitar tempat dialektersebut digunakan sepanjang perkembangan. Dialek itu dihasilkan karena adanya dua faktor yang salimg melengkapi, yaitu faktor waktu dan faktor tempat.

b. Dialek 2.

Dialek ini di dalam kepustakaan dialektologi Roman di sebut dialecte 2, regiolecte, atau dialecte regional, yaitu bahasa yang dipergunakan diluar daerah pakainya.

c. Dialek Sosial.

Dialek sosal atau sosiolacte ialah ragam bahasa yang dipergunakan oleh kelompok tertentu, yang membedakan dari kelompok masyarakat lainnya.

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Ragam Bahasa

Beberapa pendapat para ahli bahasa mengenai faktor-faktor peneyebab adanya ragam bahasa, antara lain dikemukakan oleh Kridalaksana (1970), Nababan (1991), Suwito (1992), dan Abdul Chaer (1995).

Menurut Kridalaksana faktor-faktor tersebut adalah: waktu, tempat, sosio-budaya, situasi, dan sarana pengungkapan. Menurut Nababan, faktor-faktor tersebut meliputi: daerah, kelompok, atau keadaan sosial, situasi dan tingkat formalitas, serta zaman yang berlainan. Menurut Suwito, meliputi faktor-faktor: penutur, sosietal, dan situasi tuturan. Menurut Abdul Chaer , meliputi: keragaman sosial penutur dan keragaman fungsi bahasa.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar ada dua faktor yang mempengaruhi ragam bahasa, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yaitu faktor yang berada di luar sistem bahasa, meliputi: waktu, tempat, sosial-budaya, situasi dan sarana yang digunakan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang ada di dalam bahasa itu sendiri, misalnya mengenai variasi fonetis, variasi fonemis, dan variasi morfolois.

2.5 Variasi Bahasa

Suwito (1983:29), berpendapat bahwa variasi bahasa adalah sejenis ragam yang pemakainya disesuaikan dengan situasi dan fungsinya, tanpa mengabaikan kaidah pokok yang berbeda dalam bahasa yang bersangkutan. Berdasarkan pengertian tersebut, masalah variasi bahasa sangat bergantung pada dua faktor , yaitu faktor linguistik dan faktor nonlinguistik. Hal-hal yang terkait dengan faktor linguistik terwujud dalam norma-norma internal bahasa, baik sistem bunyi, sistem kata, maupun sistem kalimat. Hal-hal yang terkait dengan faktor nonlinguistik berupa pemakaian bahasa yang disesuiaikan dengan situasi dan fungsi bahasa yang bersangkutan.

Nababan (1993:13) menyatakan bahwa bahasa terdiri dari dua aspek pokok yaitu aspek bentuk dan makna. Akan tetapi walaupun polanya berbeda masih memiliki kesamaan dengan pola induknya (Soepomo dalam Sowito, 1983:23). Kartimiharja (1988:82) mengemukakan bahwa variasi bahasa merupakan istilah yang agak umum dan netral istilahnya, istilah itu diasosiasikan dengan perbedaan dalam suatu bahasa yang timbul karena adanya kelas sosial ekonomi, latar belakang pendidikan, serta profesi, ideologi, cita-cita dan agama. Chaer dan Leonie Agustina (2001: 61-62) mengemukakan bahwa variasi bahasa dapat diklasifikasikan dari segi penutur,pemakaian, keformalan, dan sarana.

1. Variasi bahasa dari penutur

Variasi bahasa dari penutur dapat berupa idiolek, dialek, sosiolek, dan kronolek. Chaer dan Leonie Agurtina (1995:82) menyatakan bahwa idiolek adalah variasi bahasa yng bersifat perseorangan. Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat tertentu (Chaer dan Leonie Agustina, 2001:63). Menurut Poedjosoedarmo (1979:81) dialek adalah variasi sebuah bahasa yang adanya ditentukan oleh latar belakang asal si penutur. Menurut Nababan (1993:4) idiolek-idiolek lain dapat digolongkan dalam satu kumpulan kategori yang disebut dialek. Dialek mengacu kesemua perbedaan antara variasi bahasa yang satu dengan yang lain mencakup penggunaan tata bahasa, kosa kata, maupun aspek-aspek ucapan (Chaika dalam Cahyono, 1995:387-388).

2. Sosiolek

Menurut Chaer dan Leonie Agustina (2001 : 64) sosiolek adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya.

3. Kronolek

Kronolek atau dialek teporal yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masyarakat tertentu

BAB III

METODOLOGI

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian tentang Variasi Dialek Bahasa Madura ini berkaitan dengan suatu gejala kebahasaan yang sifatnya alamiah. Artinya data yang dikumpulkan berasal dari lingkungan nyata dan situasi apa adanya, yaitu dialek yang digunakan masyarakat Kabupaten Bondowoso, sedangkan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hal ini disebabkan karena data yang terkumpul dan dianalisis secara deskriptif.

Metode penelitian deskriptif berbeda dengan metode perspektif. Metode deskriptif memilki banyak ciri, antara lain (1) tidak mempermasalahkan benar atau salah objek yang dikaji, (2) penekanan pada gejala aktual atau pada yang terjadi pada saat penelitian dilakukan, dan (3) biasanya tidak diarahkan untuk menguji hipotesis. Begitu sebaliknya dengan metode penelitian perspektif.

Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (1990:194) yang menyatakan bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Dalam penelitian ini, data yang terkumpul berupa kata dan bukan dalam bentuk angka. Maka dari itu, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Alasan lain bahwa penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif adalah (1) penyajian hasil penelitian ini berupa penjabaran tentang objek, (2) pengumpulan data dengan latar alamiah, (3) peneliti menjadi instrumen pertama.

3.2 Subjek Penelitian

Berkaitan dengan hal di atas, yang dikaji dalam penelitian ini adalah Variasi Leksikon bahasa Madura. Hal tersebut meliputi bentuk – bentuk variasi dialek bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso.

3.3 Data dan Sumber Penelitian

Data dari penelitian ini berupa kata yang digunakan masyarakat kabupaten Bondowosodalam berkomunikasi sehari-hari. Sumber data dari penelitian ini adalh percakapan antar masyarakat di Kabupaten Bondowoso, sebagai interaksi komunikasi.

3.4 Instrumen Penelitian

Peneliti disebut sebagai human interest mana kala peneliti tersebut berperan sebagai instrumen pertama. Di dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai pemeran utama. Sebagai instrument tambahan atau pelengkapnya, peneliti dibantu dengan perlengkapan catatan variasi dialek bahasa Madura.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik observasi sebagai teknik utama. Observasi dilakukan dengan cara simak-catat, yaitu peneliti mencatat data bahasa dan konteksnya yang meliputi (1) topiknya, (2) suasananya, (3) tempat pembicaraan, serta (4) lawan bicaranya.

Melalui tekink observasi, dengan cara pengamatan partisipan oleh peneliti sendiri, maka akan diperoleh data yang wajar da alami. Observasi dalam penelitian ini meliputi:

a. Persiapan

Persiapan ini adalah tahap paling awal dari observasi. Tahap persiapan ini dimulai dari mempersiapkan peralatan dan pelengkapan uuntuk mencatat situasi atau keadaan percakapan yang tengah berlangsung. Peralatan perlengkapan yang dimaksud berupa alat-alat tulis untuk mencatat..

b. Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan dalam penelitian ini dilakukan secara bertahap. Artinya, data yang berhasil tercatat pada tahap pertama, akan diulangi lagi pada tahap berikutnya untuk menentukaninfoormasi tambahan. Tahap pertama dalam pelaksanaan ini selanjutnya disebut sebagai tahap eksplorasi, yaitu proses pencatatan data penelitian dari dialog masyarakat. Tahap kedua disebut sebagai tahap terseleksi. Tahap ini dilakukan guna mengetahui benar makna dialek bahasa Madura yang digunakan.

c. Pemantapan Observasi

Langkah terakhir dari pengumpulan data ini adalah pemantapan observasi. Pemantapan observasi ini berupa pengecekan ulang data-data yang sudah berhasil didapat. Kegiatan pemantapan ini dilaksanakan beberapa kali sampai benar-benar memperoleh data yang memadai.

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Sejarah Bahasa Madura

Bahasa Madura adalah bahasa yang digunakan Suku Madura. Bahasa Madura mempunyai penutur lebih kurang 15 juta orang. Kawasannya meliputi Pulau Madura, hujung Timur Pulau Jawa atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang hingga ke Banyuwangi, Kepulauan Kangean, Kepulauan Masalembo, hingga Pulau Kalimantan.

Di Pulau Kalimantan, masyarakat Madura bertumpu di kawasan Sambas, Pontianak, Bengkayang dan Ketapang, Kalimantan Barat. Bagi kawasan Kalimantan Tengah mereka bertumpu di daerah Kotawaringin Timur, Palangkaraya dan Kapuas. Namun kebanyakan generasi muda Madura di kawasan ini sudah hilang penguasaan terhadap bahasa ibunda mereka.

Setelah terjadi rusuhan antara etnik di Kalimantan (Sambas dan Sampit), sebahagian besar masyarakat Madura kembali ke tanah kelahiran mereka. Walaupun mereka masih berharap untuk kembali ke Kalimantan, etnik Dayak bertegas untuk tidak menerima mereka kembali.

Bahasa Madura merupakan cabang dari bahasa Austronesia ranting Melayu-Polinesia, dan mempunyai persamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia. Bahasa Madura banyak dipengaruhi oleh Bahasa Jawa, Melayu, Bugis, Tionghoa dan lain sebagainya. Pengaruh bahasa Jawa amat kuat dalam bentuk sistem hieraki berbahasa kesan pendudukan Kerajaan Mataram di Pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu bahkan dengan Minangkabau, tetapi dengan lafaz yang berbeda.

Contoh :

  • bhilah (baca : bhilleh e pet pet) sama dengan bila
  • oreng = orang
  • taddha' = tidak ada (hampir sama dengan kata tadak dalam Bahasa Melayu Pontianak)
  • dhimmah (baca : dimmah) = mana? (hampir serupa dengan dima di Minangkabau)
  • tanyah = sama dengan tanya
  • cakalan = tongkol (hampir mirip dengan kata Bugis : cakalang tapi tidak sengau)
  • onggu = sungguh, benar (dari kata sungguh)
  • Kammah (baca : kammah mirip dengan kata kama di Minangkabau)= ke mana?
  • Engko = Aku
  • Apah = Apa
  • Be'en = Kamu
  • Ajhelen = Berjalan
  • Tedung = Tidur
  • seklangkong = Terima Kasih

4.2 Dialek – dialek Bahasa Madura

Bahasa Madura juga mempunyai berbagai dialek tersendiri bergantung kepada wilayah penuturnya. Di Pulau Madura sendiri pada dasarnya terdapat beberapa dialek seperti :

  • Dialek Bangkalan
  • Dialek Sampang
  • Dialek Pamekasan
  • Dialek Sumenep, dan
  • Dialek Kangean

Dialek yang dijadikan acuan baku Bahasa Madura adalah dialek Pamekasan, kerana Pamekasan merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura di masa lalu. Dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang telah bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Di pulau Jawa, dialek-dialek ini seringkali bercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Pada umumnya masyarakat Bondowoso lebih menguasai dialek bahasa madura Pamekasan daripada bahasa madura Sumenep.

Contoh pada kata ganti kamu :

  • kata be'en umum digunakan di Madura sementara kata be'na dipakai di Sumenep.
  • kata kakeh untuk kamu lazim dipakai di Bangkalan bahagian timur dan Sampang.
  • Heddeh dan Seddeh dipakai di daerah Bangkalan selatan(kamal)
  • "be'eng" dipakai di daerah Bangkalan kota.

Bagi dialek Kangean, dialek ini merupakan serpihan dari Bahasa Madura. Perbezaannya yang berbeda menyebabkan dialek Kangean dianggap bukan sebahagian Bahasa Madura, khususnya oleh masyarakat Madura daratan.

Contoh :

  • akoh : saya (sengko' dalam bahasa Madura daratan)
  • kaoh : kamu (be'en atau be'na dalam bahasa Madura daratan)
  • berrA' : berat (berre' dengan e pet pet dalam bahasa Madura daratan)
  • morrAh : murah (mode dalam bahasa Madura daratan)

4.3 Variasi Leksikon Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso

Bahasa Madura di kabupaten Bondowoso memiliki kekhasan leksikon dikarenakan letaknya yang merupakan daerah peralihan dialek bahasa Madura antara dialek bahasa Madura Pamekasan dan dialek bahasa Madura Sumenep. Kekhasan leksikon ini menjadikan ciri khas Bahasa Madura di kabupaten Bondowoso yang lain daripada bahasa atau dialek di sekitarnya.

Kekhasan leksikon Bahasa Madura di kabupaten Bondowoso yang terdapat dalam data diantaranya berupa kata benda, kata kerja, kata sifat, kata tugas, maupun kata ganti.

Contoh:

/be’en/, /be’na/, /kamu/

/ engko’/, / tiah /, /saya/

/abhenta/, /acaca/, /berbicara/

/moghuk/, /lempo/, /capek/

/ on-laon /, / Ca-raca /, /pelan-pelan/

/ bini’/, / Bebini’ /, /perempuan/

/ lakek /, / lalakek /, /laki-laki/

/ Mulaen/, / ngantang /, /mulai/

/ ningguh /, / nyungok /, /melihat/

/ ema’en /, / Mama’na /, /ibunya/

/ de’remmah/, / beremmah /, /bagaimana/

4.4 Tingkat Tutur Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso

4.4.1 Tingkat Tutur Ja’ - iya

Tingkat tutur Ja’ - iya merupakan ciri khas bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso. Tingkat tutur ini digunakan oleh semua penutur tanpa melihat status seseorang. Penggunaan tingkat tutur Ja’ - iya ini bertujuan untuk keakraban tanpa mengurangi rasa hormat kepada seseorang. Tingkat tutur Ja’ - iya ini menunjukkan kesederajatan para penutur. Dengan kata lain tingkat tutur Ja’ - iya bersifat egaliter.

Contoh: sengko’ entarah ka romanah adi polanah adi sake’.(saya ingin pergi ke rumah adi karena adi sakit).

4.4.2 Tingkat Tutur Engghi - Enten

Tingkat tutur Engghi - Enten adalah tingkat tutur menengah antara Ja’ - iya dan Engghi - Bhunten. Hal ini digunakan untuk menunjukkan perasaan sopan yang sedang-sedang saja. Tingkat tutur ini banyak sekali digunakan oleh penutur Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso. Selain bertujuan untuk keakraban juga untuk memberikan rasa hormat terhadap orang yang diajak bicara.

Contoh: kauleh entarah ka compo’en adi soalah adi songkan.(saya ingin pergi ke rumah adi karena adi sakit)

4.4.3 Tingkat Tutur Engghi - Bhunten

Tingkat tutur Engghi - Bhunten adalah tingkat yang mencerminkan arti penuh sopan santun. Tingkat ini menandakan adanya perasaan segan seseorang terhadap orang lain, karena orang lain tersebut merupakan orang yang belum dikenal, atau berpangkat atau priyayi, berwibawa, dan lain-lain. Dengan kata lain, tingkat tutur Engghi - Bhunten digunakan untuk menunjukkan rasa hormat kepada diri orang yang ditunjuk. Tidak semua penutur Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso menguasai tingkat tutur ini dengan baik. Hanya penutur tertentu yang mampu menggunakannya. Pengguna tingkat tutur Engghi - Bhunten biasanya orang-orang yang berpendidikan atau yang mempunyai jabatan - jabatan tertentu, seperti guru, kepala desa, para pamong, ketua RT, dan ulama. Tingkat tutur Engghi - Bhunten biasanya digunakan pada forum forum resmi, seperti upacara pernikahan, upacara kematian, dan rapat RT.

Contoh: abdhinah miosah de’ka dhelemmah adi milanah adi songkan.(saya ingin pergi ke rumah adi karena adi sakit).

BAB V

KESIMPULAN dan SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa (1) Kabupaten Bondowoso merupakan daerah pertemuan dua dialek bahasa Madura, yaitu dialek Pamekasan dan dialek Sumenep. (2) Daerah-daerah yang ada di perbatasan antara kota Bondowoso dan Situbondo lebih mudah menerima pengaruh dialek Sumenep. (3) Daerah yang sulit dijangkau yang berupa daerah pegunungan lebih mempertahankan bahasanya. (4) Daerah yang setengah setengah lebih banyak variasinya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ragam bahasa, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal yaitu faktor yang berada di luar sistem bahasa, meliputi: waktu, tempat, sosial-budaya, situasi dan sarana yang digunakan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang ada di dalam bahasa itu sendiri, misalnya mengenai variasi fonetis, variasi fonemis, dan variasi morfolois.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian tentang Variasi Dialek Bahasa Madura di Kabupaten Bondowoso maka saran yang dapat diberikan adalah hendaknya masyarakat Bondowoso lebih mengenal dan lebih menguasai lagi bahasa yang bahasa yang sudah dipakai untuk berkomunikasi sehari-hari tersebut.